Kamis, 15 Desember 2011

Absorbsi Obat

ABSORBSI OBAT


Faktor yang mempengaruhi Absorbsi Obat :
Sifat fisika – kimia obat.
Sifat Sterro kimia dalam kelarutan.
Besar fartikel
Sediaan obat
Dosis
Rute Pemberian dan tempat pemberian
Waktu kontak dengan permukaan
Besarnya luas permukaan
Sifat pH dalam darah
Integritas Membran
Aliran Darah organ.

Absorbsi melalui Rute Bucal atau Sublingual :
Memiliki sifat absobrsi yang baik untuk senyawa yg tak terironisasi, Lipopil.
Keuntungan
Munculnya kerja obat yang cepat
Tidak ada kerja cairan pencernaan.
Bahan obat tidak harus melewati hati segera setelah diabsorbsi
Kerugian
Hanya mungkin untuk senyawa yang dapat diabsorbsi dengan mudah .
Tidak boleh untuk obat yang rasanya tidak enak.
Indikasi
Untuk pengobatan serangan angina pectoris dengan Nitrogliseril.
(Tablet kunyah, Aerosol).

Absorbsi pada pemakaian Parenteral.
Pemakaian: IC , SC , IM, IV,
- Kecepatan absorbsi sangat bergantung kepada pasokan darah.
- Pada keadaan syok, absorbsi sangat menurun

Absorbsi Melalui Rute Oral .
Absorbsi dalam saluran cerna mempunyai arti besar.
Dalam lambung: harga pH sangat asam teruta Asam lemak dan zat netral yang limpofil.
Waktu beradanya bahan obat dalam lambung bergantung kepada :
- Kondisi pengisian
- Keberadaan bahan lain dalam lambung.
Bahan yang peka terhadap asam lambung harus dilindungi ( salut ).
Usus halus merupakan organ absorbsi terpenting :
Waktu perlewalatan untuk absorbsi cukup.
Usus besar
- Permukaan absorbsi lebih kecil
- Kemempuan absorbsi lebih rendah.
* Antibiotika sebaiknya diberikan pada saat lambung kosong untuk memenuhi konsentrasi yang diperlukan untuk memenuhi kuman.
* Susu + tetra cyclin  konsentrasi akan kurang, karena susu mengandung kalsium.

Absorsi Pemakaian Melalui Rektum :
Alur melalui hati primer dihindari
Absorbsi dalam 2/3 bagian bawah rektum langsung mencapai vena forta.
Koefesien absorbsi lebih rendah dari pada pemakaian oral.
Perbedaan dalam individu dan antar individu, ada.

Absorbsi Pemakaian melalui Hidung :
Sifat absorbsi mukosa hidung cukup baik seperti mukosa mulut.
Cocok untuk terapi topikal untuk mengurangi pembengkakan mukosa.
Kemungkinan dapat terjadi akibat absorbsi :
* Efek sistemik
= Tetes hidung : Alfa – Simpato mimetika
* Bubuk hisap ADH untuk therapi diabetes insipidus.

Mekanisme Hidung tersumbat :
Karena vasodilator akibat adanya histamin  peningkatan permibialitas 
Hidung tersumbat.

Absorbsi Pemakaian pada Kulit.
Secara Fisologis tidak memiliki fungsi absorbsi
Absorbsi terjadi secara : Trasdermal, Trans folikuler
Kemampuan absorbsi kulit utuh lebih rendah dibanding melalui mukosa
Faktor yang mempengaruhi absorbsi kulit :
- Kenaikan suhu kulit
- Rangsangan penyebab hiperemi
- Zat pelarut tertentu
- Peradangan pada kulit.
Pada bayi dan anak kecil : Stratum corneum masih sedikit, absorbsi meningkat
Pada usia tua, stratum korneum tipis absorbsi kemungkinan menigkat.
Sebagai tempat pemberian untuk bentuk sediaan yang cocok.
Hanya cocok untuk senyawa dengan dosis rendah.

Rute pemberian Obat :
Bergantung kepada :
Tujuan terapi obat
Sifat dari pada obat
Kondisi penderita.

Pertimbangan :
1. Diperlukan efek sistemik atau lokal
2. Kecepatan munculnya aksi dan lamanya kerja obat yang diinginkan.
3. Stabilitas obat dalam cairan lambung atau cairan usus.
4. Keamanan pemberian dengan bermacam rute.
5. Kemampuan penderita; Menelan obat, Absorbsi obat secara oral
6. Kenyamanan pemberian bermacam rute bagi penderita dan tenaga medis.
7. Biaya pengobatan dengan bermacam rute pemakaian

Cara Pemakaian :
Pemakaian topikal :
Pengobatan lokal pada kulit
Pemberian oral : Absorbansia atau Adstrigensia.
Pemakaian Bronkholitika dalam bentuk aoresol.
Penyuntikan anestetika lokal.

Keuntungan :
Umumnya dosis lebih rendah.
Kerja sistemiknya rendah.
Kerugian :
Bahaya alergi umumnya lebih besar.

Bentuk sediaan Padat pulvis – powder .
Lesi akut atau sub akut ;
* menyerap kelembaban.
* mengurangi friksi antara dua lipatan kulit.
Sebagai bahan pembawa obat:
* Anti fungal
* Anti bacteri.

Bentuk sediaan Cair :
Preparat basah; kompres, rendam, mandi.
Untuk menyejukkan; anti pruritik, membersihkan.

Lotion :
Sediaan cair dimaksudkan untuk penggunaan pada kulit tanpa gosokkan.
Suspensi, solution, emulsi, mixtura agitanda.
Glicerin; untuk mencegah efek pengeringan yang berlebihan .
Alkohol untuk meningkatkan pengeringan lotion dan sifat pendingin.
Penggunaan : pengobatan dematosis acute : Mendinginkan, mengeringkan, anti peruritik , protektif.

Linimentum :
Sediaan cair mengandung minyak atau alkohol.
Solution, suspensi, emulsi
Linimentum dengan dasar Alkohol, Rubetacient – digunakan dengan gosokan untuk nyeri otot ringan.

Semi solid :
Oint ment ( unguentum ) cream, pasta.
Jelly
Aerosal.

Pemakaian Parental.
Penyuntikan Intra vasal / infus ( kebanyakan IV ).

Keuntungan :
Dapat diatur dosis yang tepat
Bioavaibilitas = 100 %, berkurang karena absorbsi bahan obat pada alat.
Persyaratan larutan mengenai Isotoni dan isohidri lebih rendah dibanding IM atau SC karena :
Pencernaan yang cepat dalam darah, Kapasitas daparnya besar.
Bahan obat mencapai tepat kerja sangat cepat.

Bentuk Pemakaian IV .
Terutama jika faktor waktu sangat penting : darurat ; pembiusan IV
Kerugian :
Biaya tinggi
Beban pasien, takut.
Resiko tinggi, Nekrose.
Terlalu besar konsentrasi zat berkhasiat pada tempat kerja akibat penyuntikan yang terlalu cepat.
Terjadi haemolisis setelah penyuntikan larutan yang pekat.
Penyebaran bibit penyakit.
Beban psikologis senang.
takut
Pemakaian Oral
Paling sering dilakukan karena;
= bentuk obat yg cocok relatif mudah dibuat.
= Kebanyakan pasien lebih menyukai cara ini.
Tidak cocok untuk :
= bahan obat yg sulit di absorbsi
= bahan obat yang sulit mengiritasi mukosa lambung.
Dibuat sediaan salut yang tahan terhadap cairan lambung.

Pemakaian Rektal.
Pasien cenderung muntah
Kadar obat dalam plasma tidak mutlak diperlukan.
Terdapat gangguan pencernaan bagian atas.
Tidak dalam keadaan darurat.
Penggunaan :
Analgetika , anti pyretika pada bayi
Pasien cendrung muntah.
Terdapat gangguan lambung.
Hindari pemakaian anti biotika

Photobucket